KELAKUAN BURUK SAYA

Sumber: http://statis.dakwatuna.com

Bila di hitung, kelakuan buruk saya lebih mendominasi daripada kelakuan baik saya. Biasanya, setelah melakukan keburukan tersebut saya baru sadar dan menyesalinya. Di kolom ini saya akan menceritakan beberapa kelakuan buruk yang lama melekat dalam diri dan saya mengalami kesulitan untuk menghilangkannya. Barangkali, dengan cara menceritakannya di sini kelakuan buruk itu bisa pergi, atau paling tidak mampu mengurangi. Continue reading

MEMPERBAIKI KELUARGA SOLUSI MENCETAK GENERASI UNGGUL

MEMPERBAIKI KELUARGA SOLUSI MENCETAK GENERASI UNGGUL

 Abu Sohail As-Sumbawi

 

 

Hidup di masa sekarang ini tidak akan luput dari berbagai pernak-pernik dan juga problematika kehidupan. Salah satu permasalahan yang muncul dizaman yang serba modern ini adalah bagaimana cara menghasilkan generasi yang baik, unggul dan bermanfaat. Tentunya tidak sekadar unggul dalam hal kecerdasannya saja, namun juga bagaimana sebuah generasi tersebut juga unggul  dalam hal perilaku atau yang lebih dikenal dengan istilah akhlak (budi pekerti). Mengapa demikian? Karena banyak kita melihat saat ini semakin bertambah pesatnya teknologi bukan semakin menjadikan generasi muda ini semakin baik namun justru menjadikan mereka generasi yang tidak mengenal lagi apa itu budi pekerti dan akhlak yang luhur. Tentunya hal ini sulit dicapai kecuali kita memperhatikan dan melakukan perbaikan dari hal yang paling mendasar. Yaitu bagaimana kita mengupayakan perbaikan pada ruang lingkup yang paling sederhana yaitu keluarga.

Maka sebelum melangkah pada faktor-faktor yang akan membawa pada perbaikan maka perlu kiranya kita melihat bagaimana Allah menjelaskan akan pentingnya hal ini. Memperbaiki sebuah kondisi adalah merupakan hal yang diperintahkan sebagaimana Allah menyebutkan dalam firmanNya,

 “Maka barangsiapa bertaubat, sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 39)

 

Allah mengabarkan kepada kita semua bahwa dengan memperbaiki sebuah kondisi dari apa yang pernah kita perbuat maka Allah akan mengampunkan apa-apa yang telah terjadi. Dan Allah akan menjadikan kesudahan yang baik bagi orang yang ingin melakukan perbaikan dan ingin merubah kondisi kehidupannya dari sebuah keburukan menjadi kondisi yang jauh lebih baik lagi. Namun tentunya hal itu tidak akan tergapai dan tercapai kecuali mengikuti apa yang telah diperintahkan oleh Allah, karena Allah telah menjadikan dalam hal tersebut metode yang jelas dan mencakup segala bidang, menyiapkan generasi yang handal, membangkitkan peradaban yang baru, dan meletakkan sendi-sendi yang akan dapat menopang perubahan masyarakat dan pribadi menuju arah yang lebih baik. Hal ini Allah tuangkan dalam ayatNya,

“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. Al-Maidah: 15-16)

 

Lalu apakah kemudian metode yang digunakan untuk menunjang tercapainya hal-hal yang telah digambarkan Allah pada ayat tersebut. Bagaimana kita mengawali proses terbentuknya masyarakat yang baik, santun dan bersahaja atau yang lebih kita kenal dengan nama masyarakat madani. Kemudian faktor-faktor apakah yang akan membawa kita untuk menjadi seorang pendidik dan guru yang handal. Bagaimana semua hal tersebut bisa kita raih? Sungguh sebuah pertanyaan yang gampang-gampang susah untuk dijawab. Namun apabila kita lebih dalam meneliti dan memperhatikan hal tersebut maka sesungguhnya jalan keluar atau solusi dari hal tersebut adalah seauatu yang sederhana. Yaitu bagaimana kita memperbaiki, yaitu memperbaiki individu (pribadi), lingkungan keluarga dan masyarakat. Dan pada setiap ruang lingkupnya memiliki sisi-sisi dan faktor penunjang untuk mewujudkan perbaikan tersebut.

Dari mana memulai?

Tentunya memulai dari ruang lingkup yang paling kecil dari masyarakat itu sendiri yaitu keluarga. Mengapa demikian karena hal ini merupakan penopang dan penunjang tegaknya masyarakat madani. Karena keluarga adalah miniatur dari bangunan masyarakat pada lingkup yang terkecil. Dan keluarga adalah penentu tegak dan runtuhnya sebuah bangunan masyarakat didalamnya.

Dan Al-Qur’an telah menjelaskan diberbagai ayatnya akan peranan penting yang dimainkan oleh keluarga dalam pembangunan sebuah generasi. Adapun sendi dan juga faktor yang menjadi jembatan yang akan menyampaikan pada terciptanya masyarakat madani adalah keluarga. Karena keluarga adalah pondasi yang paling kokoh dan kuat. Hal ini bisa dipersaksikan dengan bagaimana terjalinnya hubungan kasih sayang, keadilan, ketakwaan serta akhlak yang mulia begitu juga etika-etikanya.

Tidak diragukan lagi bahwa kehidupan rumah tangga/ keluarga merupakan pondasi  dasar dalam membentuk masyarakat yang madani sebagai cikal bakal munculnya generasi yang unggul. Adapun hal yang memiliki keterkaitan dengan kehidupan rumah tangga atau keluarga beraneka ragam diantaranya yaitu kehidupan diantara pasangan suami dan isteri, hubungan antara orang tua dan anak keturunannya, dan hal-hal yang berkaitan dengan etika dan prilaku dari individu-individu di dalamnya.

Adapun hal-hal yang menunjukkan pentingnya memperbaiki kondisi rumah tangga ataupun keluarga, ada tiga hal yang perlu diperhatikan yaitu :

  1. Metode preventif, yaitu bagaimana sebuah keluarga menjaga dan melindungi jiwa mereka dari ancaman hukuman Allah sebagaimana Allah menyebutkan dalam firmanNya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apaapa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim:6)

 

  1. Besarnya tanggung jawab yang dipikul oleh seorang kepala rumah tangga yang akan dipertanggung jawabkannya kepada Allah kelak di hari kiamat,

إِنَّ اللَّهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ أَحَفِظَ أَمْ ضَيَّعَ حَتَّى يُسْأَلَ الرَّجُلُ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

“Sesungguhnya Allah bertanya setiap pemimpin tentang apa yang ia pimpin, apakah ia menjaga atau menyia-nyiakan (yang dipimpinnya), sampai seseorang ditanya tentang keluarganya (istrinya).” )HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani (

 

  1. Memperhatikan secara khusus akan prihal rumah tangga sebagai sarana yang penting dalam membangun sebuah masyarakat madani, masyarakat muslim. Karena masyarakat madani ini terbentuk dari keluarga-keluarga muslim yang bersandar kepada aturan Allah dan membendung segala bentuk hal-hal yang muncul dari musuh-musuh Islam. Maka sesunggunya bangunan itu dilihat dari bagaimana pondasi dan bahan yang menyusunnya, maka apabila pondasi dan bahan yang menyusunnya adalah dari sesuatu yang kokoh dan kuat niscaya bangunan yang dihasilkan akan menjadi kuat dan kokoh. Maka dengan memperhatikan akan hal ini yaitu menjadikan hal ini sebagai penggerak kebaikan dan penutup atau mencegah segala bentuk kemaksian. Sehingga akan muncul dari keluarga-keluarga muslim tersebut benih-benih perbaikan yang akan membawa kebaikan bagi lingkungan dan masyarakatnya. Hal ini bisa didapatkan melalui juru dakwah (seorang mubaligh)  yang akan menjadi teladan di tengah-tengah masyarakat, menuntut ilmu agama yang merupakan kewajiban dasar setiap muslim dan seorang yang ibu yang pada hakikatnya adalah seorang pendidik yang utama

 

Adapun faktor yang akan menunjang terjadinya perbaikan dan kebaikan pada ruang lingkup keluarga sebagai berikut :

  1. Pembinaan keluarga dengan metode yang benar mulai dari membentuk keluarga yang sakinah mawaddah wa Rahmah sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka apabila dalam keluarga yang terdiri dari seorang suami dan isteri yang tunduk dan patuh kepada aturan Allah maka akan muncul darinya keluarga yang akan menjadi cikal bakal masyarakat madani yang siap memunculkan generasi yang unggul.
  2. Memperbaiki kondisi keluarga; Isteri, anak, dan anggota keluarga lainnya. Mengajarkan kepadanya akan akidah keyainan dan ibadah yang benar sehingga darinyalah muncul keturunan-keturunan yang sesuai dengan bimbingan Islam karena isteri adalah penopang yang asas dalam melahirkan generasi dan peradaban yang cemerlang sebagaimana tergambar dalam syair,

الأم مدرسة إذا أعددتَها

Ibu laksana madrasah (tempat pendidikan); apabila kamu menyiapkannya

أعددتَ شَعْباً طَيِّبَ الأعراق

Kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah generasi yang baik budi pekertinya

  1. Mengajarkan kepada setiap individu keluarga akan ilmu agama dan pentingnya mempelajarinya terutama sekali adalah kepala atau pemimpin keluarga yaitu para suami. Mengajarkan kepada setiap anggota keluarganya akan bagaimana cara beribadah yang benar sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah.
  2. Melakukan tarbiyah (pendidikan) terhadap anak keturunan, yang benar sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mengajarkan kepada mereka akan akidah, ibadah, muamalah dan seluruh aspek kehidupan yang selaras dengan aturan Allah sebagaimana hal ini dilakukan Rosulullah kepada Ibnu Abbas sebagai cikal bakal generasi unggul yang pernah muncul dari tangan Rosulullah.
  3. Mengeliminasi segala bentuk kemungkaran dan pelanggaran yang dapat menggelincirkan keluarga dan individu-individu di dalamnya kepada jalan yang akan menjauhkan mereka dari jalan Allah. Hal ini yang terkadang kurang diperhatikan setiap keluarga sehingga terkadang dalam memberikan kebebasan kepada anaknya terlalu melampaui batasan yang semestinya sehingga orang tua tidak mengetahui dimana, dengan siapa, sedang apa …? yang dikerjakan oleh anaknya. Orang tua yang memberikan kebebasan yang berlebihan kepada anaknya sehingga melakukan hal-hal yang tidak semestinya dan tidak mengetaui perkembangan dari anaknya serta perkembangan yang terjadi dengan anaknya sehingga mereka terjerumus kepada hal-hal yang merusak seperti pergaulan bebas, narkoba, minuman keras, judi dan segala kerusakan lainnya. Maka hendaknya ini menjadi perhatian kita semua karena tentunya hal tersebut akan sangat berpengaruh kepada munculnya sebuah generasi di suatu masa. Namun juga tidak melakukan sebaliknya dengan mengekang, dan tidak memberikan kesempatan sama sekali kepada anak keturunan kita sehingga seolah-olah mereka hidup dalam tekanan. Seimbang berada diantara kedua.

 

Inilah beberapa hal yang dapat kami sebutkan sedikit dari hal-hal yang dapat menjadi peletak dasar dan cikal bakal produsen generasi yang baik. Generasi yang akan berjalan sesuai dengan aturan Allah. Yaitu kiat-kiat yang dibutuhkan untuk menghasilkan generasi unggul dan dimulai dari ruang lingkup yang paling kecil yaitu keluarga. Semoga Allah senantiasa menjadikan kita semua adalah seorang hambanya yang menjadi pelopor untuk membina keluarga dan menghasilkan dari keluarga tersebut keturunan-keturunan yang berjalan sesuai dengan aturan Allah dan menjalankan kehidupannya mengikuti teladan nabi-Nya. Sehingga dari keluarga kita muncul generasi-generasi yang akan menjadi panutan seluruh umat manusia karena akhlak dan budi pekerti yang luhur sebagaimana Al-Qur’an dan As-Sunnah telah menuntun kita semua.

 

Sumber Rujukan  :

  1. Artikel “Memperbaiki Keluarga” dalam rubrik keluarga dalam Majalah Al-Islah terbitan Aljazair.
  2. Beberapa artikel seputar rumah tangga.
  3. Rujukan lainnya.

Al-Imam Abu Dawud Rahimahullah

Al-Imam Abu Dawud Rahimahullah

Ust. Agung Cahyono, S.Pd.I

           


  • Nama Dan Nasab Al-Imam Abu Dawud Rahimahullah

Nama lengkap Al-Imam Abu Dawud adalah Sulaiman bin Al-Asy’as bin Ishaq bin Basyir bin Syadad bin Amar Al-Azadi As-Sijistani.

Adapun nasab beliau Al-Azadi yaitu nisbat kepada Azd yang merupakan kabilah terkenal di daerah Yaman. Sedangkan As-Sijistani merupakan nisbat kepada daerah Sijistan, yaitu daerah terkenal. Namun ada juga yang berpendapat bahwa As-Sijistani merupakan nisbat kepada Sijistan atau Sijistanah yaitu suatu kampung yang ada di Bashrah.

  • Kelahiran Al-Imam Abu Dawud Rahimahullah

Kitab-kitab sejarah tidak menyebutkan tanggal dan bulan kelahiran Al-Imam Abu Dawud rahimahullah, namun kebanyakan reefrensi menyebutkan tahun kelahirannya. Beliau dilahirkan pada tahun 202 H sesuai dengan keterangan dari murid beliau, Abu Ubaid Al-Ajuri rahimahullah ketika beliau wafat, dia berkata: aku mendengar Abu Daud berkata: “Aku dilahirkan pada tahun 202 Hijriah”.

  • Sifat Dan Kepribadian Al-Imam Abu Dawud Rahimahullah

 

Al-Imam Abu Dawud rahimahullah termasuk diantara ulama yang mencapai derajat tinggi dalam beribadah, kesucian diri, kesalihan dan wara’ yang patut diteladani.

Sebagian ulama berkata: “Perilaku Abu Dawud, sifat dan kepribadiannya menyerupai Al-Imam Ahmad bin Hanbal. Al-Imam Ahmad bin Hanbal menyerupai Waki’; seperti Sufyan Ats-Tsauri, Sufyan seperti Mansur, Mansur menyerupai Ibrahim An-Nakha’i, Ibrahim menyerupai Alqamah, Alqamah seperti Ibnu Mas’ud, dan Ibnu Mas’ud seperti Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam”. Sifat dan kepribadian seperti ini menunjukkan kesempurnaan beragama, prilaku dan akhlak Al-Imam Abu Dawud rahimahullah. Beliau mempunyai ciri khas tersendiri dalam berpakaian, salah satu lengan bajunya lebar dan satunya lagi sempit. Jika ada yang bertanya, beliau menjawab: “Lengan yang lebar ini untuk membawa kitab, sedang yang satunya tidak diperlukan. Kalau dia lebar, berarti pemborosan”.

  • Permulaan Al-Imam Abu Dawud Rahimahullah Dalam Menuntut Ilmu

Al-Imam Abu Dawud rahimahullah semenjak kecil memiliki keahlian untuk menimba ilmu yang bermanfaat. Semua itu ditunjang dengan adanya keutamaan yang telah di anugerahkan Allah ta’ala kepadanya berupa kecerdasan, kepandaian dan kejeniusan, disamping itu juga adanya masyarakat sekelilingnya yang mempunyai andil besar dalam menimba ilmu.

Semenjak kecil beliau rahimahullah selalu memfokuskan diri untuk belajar ilmu hadits, maka kesempatan itu digunakan untuk mendengarkan hadits di negrinya Sijistan dan sekitarnya. Kemudian memulai rihlah ilmiahnya ketika menginjak umur delapan belas tahun.

Beliau rahimahullah merupakan sosok ulama yang sering berkeliling mencari hadits ke berbagai penjuru negri Islam, banyak mendengar hadits dari berbagai ulama, maka tak heran jika beliau dapat menulis dan menghafal hadits dengan jumlah besar yaitu setengah juta atau bahkan lebih dari itu. Hal ini merupakan modal besar bagi berbagai karya tulis beliau yang tersebar setelah itu keberbagai pelosok negri Islam, dan menjadi sandaran dalam perkembangan keilmuan baik hadits maupun disiplin ilmu lainnya.

  • Rihlah (Perjalanan Ilmiah) Al-Imam Abu Dawud Rahimahullah Dalam Menuntut Ilmu

Al-Imam Abu Dawud rahimahullah merupakan salah satu ulama yang gemar berkeliling mencari hadits ke negeri-negeri Islam yang ditempati para Kibarul Muhadditsin. Beliau mencontoh para syaikhnya terdahulu dalam rangka menuntut ilmu dan mengejar hadits yang tersebar di berbagai daerah yang berada di dada orang-orang tsiqat dan amanah. Dengan motivasi dan semangat yang tinggi serta kecintaan beliau sejak kecil terhadap ilmu-ilmu hadits, maka beliau mengadakan perjalanan (Rihlah) dalam mencari ilmu sebelum genap berusia 18 tahun.

Adapun negeri-negeri Islam yang beliau kunjungi adalah;

  • Iraq; Baghdad merupakan daerah islam yang pertama kali beliau masuki, yaitu pada tahun 220 H
  • Kufah; beliau kunjungi pada tahun 221 H
  • Bashrah; beliau tinggal disana dan banyak mendengar hadits di sana, kemudian keluar dari sana dan kembali lagi setelah itu.
  • Syam; Damsyiq, Himsh dan Halb.
  • Al-Jazirah; masuk ke daerah Haran, dan mendengar hadits dari penduduknya.
  • Hijaz; mendengar hadits dari penduduk Makkah, kemungkinan besar saat itu perjalanan beliau ketika hendak menunaikan ibadah haji.
  • Mesir
  • Khurasan; Naisabur dan Harrah, dan mendengar hadits dari penduduk Baghlan.
  • Ar-Ray
  • Sijistan; tempat tinggal asal beliau, kelaur dari sana kemudian kembali lagi, kemudian keluar menuju ke Bashrah.
  • Diantara Guru Al-Imam Abu Dawud Rahimahullah

Di antara guru beliau yang terdapat di dalam kitab sunahnya adalah;

  • Al-Imam Ahmad bin Muhammmad bin Hanbal As-Syaibani Al-Bagdadi rahimahullah
  • Al-Imam Yahya bin Ma’in Abu Zakaria rahimahullah
  • Al-Imam Ishaq bin Ibrahin bin Rahuyah Abu Ya’qub Al-Hanzhali rahimahullah
  • Al-Imam Utsman bin Muhammad bin Abi Syaibah Abu Al-Hasan Al-Abasi Al-Kufi rahimahullah
  • Al-Imam Muslim bin Ibrahim Al-Azdi rahimahullah
  • Al-Imam Abdullah bin Maslamah bin Qa’nab Al-Qa’nabi Al-Harits Al-Madani rahimahullah
  • Al-Imam Musaddad bin Musarhad bin Musarbal rahimahullah
  • Al-Imam Musa bin Ismail At-Tamimi rahimahullah
  • Al-Imam Muhammad bin Basar rahimahullah
  • Al-Imam Zuhair bin Harbi (Abu Khaitsamah) rahimahullah
  • Al-Imam Umar bin Khaththab As-Sijistani rahimahullah
  • Al-Imam Ali bin Al-Madini rahimahullah
  • Al-Imam Ash-Shalih abu sarri (Hannad bin Sarri) rahimahullah
  • Al-Imam Qutaibah bin Sa’id bin Jamil Al-Baghlani rahimahullah
  • Al-Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli rahimahullah

o   Dan masih banyak yang lainnya rahimahumullah.

 

  • Diantara Murid Al-Imam Abu Dawud Rahimahullah

Diantara murid-murid beliau, antara lain;

  • Al-Imam Abu ‘Isa At-Tirmidzi rahimahullah
  • Al-Imam Nasa’i rahimahullah
  • Al-Imam Abu Ubaid Al-Ajuri rahimahullah
  • Al-Imam Abu Thayyib Ahmad bin Ibrahim Al-Baghdadi rahimahullah (perawi sunan Abu Dawud dari beliau)
  • Al-Imam Abu ‘Amru Ahmad bin Ali Al-Bashri rahimahullah (perawi kitab sunan dari beliau)
  • Al-Imam Abu Bakar Ahmad bin Muhammad Al-Khallal Al-Faqih rahimahullah.
  • Al-Imam Isma’il bin Muhammad Ash-Shafar rahimahullah.
  • Al-Imam Abu Bakr bin Abi Dawud rahimahullah (putra beliau).
  • Al-Imam Zakaria bin Yahya As-Saji rahimahullah.
  • Al-Imam Abu Bakar bin Abi Dunya rahimahullah.
  • Al-Imam Ahmad bin Sulaiman An-Najjar rahimahullah (perawi kitab Nasikh wal Mansukh dari beliau).
  • Al-Imam Ali bin Hasan bin Al-‘Abd Al-Anshari rahimahullah (perawi sunsn dari beliau).
  • Al-Imam Muhammad bin Bakr bin Dasah At-Tammar rahimahullah (perawi sunan dari beliau).
  • Al-Imam Abu ‘Ali Muhammad bin Ahmad Al-Lu’lu’i rahimahullah (perawi sunan dari beliau).
  • Al-Imam Muhammad bin Ahmad bin Ya’qub Al-Matutsi Al-Bashri rahimahullah (perawi kitab Al-Qadar dari beliau).
  • Diantara Karya Al-Imam Abu Dawud Rahimahullah

Adapun hasil karya beliau yang sampai kepada kita adalah;

  • As-Sunan
  • Al-Marasil
  • Al-Masa-il
  • Ijabatuhu ‘An Su’alati Abi ‘Ubaid Al-Ajuri
  • Risalatuhu Ila Ahli Makkah
  • Tasmiyyatu Al-Ikhwah Alladzina Rowa ‘Anhum Al-Hadits
  • Kitab Az-Zuhd

Adapun kitab beliau yang hilang dari peredaran adalah;

  • Ar-Radd ‘Ala Ahli Al-Qadar
  • An-Nasikh Wal Mansukh
  • At-Tafarrud
  • Fadla-ilu Al-Anshar
  • Musnad Hadits Malik
  • Dala-ilu An-Nubuwwah
  • Ad-Dua’
  • Ibtida-u Al-Wahyi
  • Akhbaru Al-Khawarij
  • Ma’rifatu Al-Awqat
  • Persaksian Dan Pujian Ulama Terhadap Al-Imam Abu Dawud Rahimahullah

Banyak sekali pujian dan sanjungan dari tokoh-tokoh terkemuka kalangan imam dan ulama hadits dan disiplin ilmu lainnya yang mengalir kepada Al-Imam Abu Daud rahimahullah, diantaranya adalah;

  • Al-Imam Abdurrahman bin Abi Hatim rahimahullah berkata : “Abu Dawud Tsiqah”.
  • Al-Imam Abu Bakr Al-Khallal rahimahullah berkata: “Imam Abu Dawud adalah imam yang dikedepankan pada zamannya”.
  • Al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah berkata: “Abu Dawud merupakan salah satu imam dunia dalam bidang ilmu dan fiqih”.
  • Al-Imam Musa bin Harun rahimahullah menuturkan: “Abu Dawud diciptakan di dunia untuk hadits dan di akhirat untuk surga, dan aku tidak melihat seorangpun lebih utama daripada dirinya”.
  • Al-Imam Al-Hakim rahimahullah berkata: “Abu Dawud adalah imam bidang hadits di zamannya tanpa ada keraguan”.
  • Al-Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi rahimahullah menuturkan: “Para ulama telah sepakat memuji Abu Dawud dan mensifatinya dengan ilmu yang banyak, kekuatan hafalan, wara’, agama (keshalihan) dan kuat pemahamannya dalam hadits dan yang lainnya”.
  • Al-Imam Abu Bakr Ash-Shaghani rahimahullah berkata: “Hadits dilunakkan bagi Abi Dawud sebagaimana besi dilunakkan bagi Nabi Daud”.
  • Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menuturkan: “Abu Dawud dengan keimamannya dalam hadits dan ilmu-ilmu yang lainnya,termasuk dari ahli fiqih yang besar,maka kitabnya As-Sunan telah jelas menunjukkan hal tersebut”.
  • Seputar Penyusunan Kitab Sunan Abu Dawud

Al-Imam Abu Dawud rahimahullah menyusun kitab sunannya di Baghdad. Minat utamanya adalah syariat, jadi kumpulan haditsnya berfokus murni pada hadits tentang syariat. Setiap hadits dalam kumpulannya diperiksa kesesuaiannya dengan Al-Qur’an, begitu pula sanadnya. Beliau pernah memperlihatkan kitab tersebut kepada Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah untuk meminta saran perbaikan.

 

Kitab Sunan Abu Dawud diakui oleh dunia Islam sebagai salah satu kitab hadits yang paling autentik. Namun, diketahui bahwa kitab ini mengandung beberapa hadits dho’if/ lemah (yang sebagian ditandai beliau, dan sebagian lainnya sebagian tidak).

 

Banyak ulama yang meriwayatkan hadits dari beliau, di antaranya Al-Imam At-Tirmidzi dan Al-Imam An-Nasa’i rahimahumallah. Al-Imam Ibnul ’Arabi rahimahullah berkata, “barangsiapa yang sudah menguasai Al-Qur’an dan kitab Sunan Abu Dawud, maka dia tidak membutuhkan kitab-kitab lain lagi”. Bahkan Al-Imam Al-Ghazali rahimahullah juga mengatakan bahwa kitab “Sunan Abu Dawud” sudah cukup bagi seorang mujtahid daripada kitab untuk menjadi landasan hukum.

 

Beliau adalah imam diantara imam-imam Ahlus Sunnah wal Jamaah yang hidup di Bashrah kota berkembangnya kelompok Qadariyah, dan seambrek aliran-aliran (menyimpang) lainnya seperti Khawarij, Mu’tazilah, Murji’ah dan Syi’ah Rafidhah serta Jahmiyah dan lain-lainnya. Namun demikian beliau tetap dalam keistiqomahan diatas Sunnah dan beliaupun membantah Qadariyah dengan kitabnya Al-Qadar, demikian pula bantahan beliau atas Khawarij dalam kitabnya Akhbar Al-Khawarij, dan juga membantah terhadap pemahaman yang menyimpang dari kemurnian ajaran Islam yang telah disampaikan olah Rasulullah. Maka tentang hal itu bisa dilihat pada kitabnya As-Sunan yang terdapat padanya bantahan-bantahan beliau terhadap Jahmiyah, Murji’ah dan Mu’tazilah.

 

  • Wafatnya Al-Imam Abu Dawud Rahimahullah

Al-Imam Abu ‘Ubaid Al-Ajuri rahimahullah menuturkan bahwa Al-Imam Abu Dawud rahimahullah meninggal pada hari jum’at tanggal 16 bulan syawal tahun 275 hijriah pada usia 73 tahun. Beliau meninggal di Busrah. Rahimallahu Al-Imam Abu Dawud.